Review Anime Violet Evergarden

Violet Evergarden

Kenapa Aku Berminat Melihat:
Trope. Aku punya keberminatan alami kepada trope post-great war kayak begini.
Karakter utama. Archetype Violet itu amat sangat aku suka sekali, yaitu seseorang yang dibentuk hanya untuk peperangan, tapi nggak ngerti kenasiban manusia normal.
Potential eyecandy. Ya iya lah ya, trailer-nya aja udah kayak begitu.

Kesan Awal:

Muantap gan

Seusai nonton episode 1-nya, saya… s-s-saya…

SAYA S H O C C.

Kira-kira beginilah muka S H O C C saya. #digamparin

Inget review anime naga-nagaan tahun lalu? Di situ aku nyebut kalo visual anime tersebut terlihat “main-main”. Sementara di sini… gila.

MUKE GILE!

Kalo Kamu tergolong tipikal orang yang bakal lebih konsentrasi ke cerita daripada visual, setidak-tidaknya Kamu pasti bakal notice kalo visual 2,5 menit pertama anime ini menarik. Background yang blurry sewaktu Violet ada di kota (plus detail rambut urakannya itu!), close-up mata (favoritkuuuhh :3), serta frame demi frame sewaktu surat terbang kebawa angin… AAAAAAAAHHH!! Eyegasm deh pokoknya!

Sampai menit terbaru pun nilai visualnya tetap terjaga. Yang buat aku gampang ketangkep itu detail perban serta tangan prostetik Violet (sebab frame-nya fokus ke situ). Aku juga suka BANGET artwork rambut di sini. Lining-nya niat sangat, bahkan lebih detail dari Hibike Euphonium yang visualnya udah greget, jadi keliatan jauh lebih natural.

Saya juga suka soal lighting serta pemilihan warna yang nggak suram, walau prelude cerita anime ini nggak dapat dikatakan ceria. Aku nangkep ini kayak tahap dari storytelling visual yang ingin memkabarhu penontonnya kalo sesuram apapun nasib di masa lalu, bakal ada hal-hal yang lebih cerah ke depannya.

Ngeliat semua itu, aku nggak merasa menyesal nungguin anime ini sejak setahun lalu! (setidaknya di tahap visual)

Roster seiyuu untuk para karakter utamanya juga sedikit mengejutkan. Profesional semua! Butuh diingat, selagi satu dekade terbaru terkadang KyoAni suka “nekat” menggunakan seiyuu yang nggak sempat terdengar gaungnya sebelum animenya tayang untuk pemeran mutlak (K-On, Tamako Market, Hibike Euphonium).

Mungkin KyoAni lagi tak sedikit duit?

Violet Evergarden
Violet Evergarden
Bezemeke

Violet Evergarden
Violet Evergarden
Mantap blay~

Violet Evergarden
Violet Evergarden

Cukup S H O C C-nya, kini aku mau lanjut ke sudut lain yang menjanapabilan sekaligus mengkhawatirkan.

Dari plot summary serta episode 1, jelas banget bakal disetir ke mana arah anime ini.

Betul sekali, menuju format episodik/semi-episodik dengan Violet bakal berjumpa beberapa macam orang tiap episode/beberapa episode untuk mencari jawaban atas “pertanyaan” yang dirinya miliki. Aku nggak dapat berbicara kalo aku nggak suka yang demikian, bahkan aku dapat berminat banget mengikuti keunikan orang-orang yang bakal Violet temui nanti, kejadian-kejadian apa yang mungkin punya catharsis yang jebret, serta akibatnya pada character development. Tapi ada satu, SATU kekhawatiran besar yang nggak dapat aku lepaskan.

Ending.

Inget, premis anime ini merupakan suatu pertanyaan. Yang namanya pertanyaan yang baik wajiblah punya jawaban. Seandainya di episode terbaru pertanyaan tersebut nggak ketemu jawabannya, maka… ucapkan selamat tinggal pada angka 9 ke atas buat skor akhir Violet Evergarden nanti. Pasti nggak cuma itu yang menentukan skor, tapi nggak dapat aku bantah kalo sudut tersebut bakal menjadi penentu nilai.

Well… sebab anime ini bakal berjumlah 14 episode, mudah-mudahan (MUDAH-MUDAHAN!) jumlah episode yang nggak biasa tersebut lumayan untuk menjawab semuanya.

Saya nggak dapat bilang ini cute, sebab ekspresinya terlalu… ugh. 🙁

Oh ya, aku juga suka latar jaman old anime ini. Jarang-jarang ada anime yang terinspirasi dari era post-WW I untuk latar. Iya, iya. Aku tahu ini tempatnya fiksi. Tapi “perang 4 tahun”, biplane, serta infantry charge masif sambil dihujani artileri yang ditunjukkan itu Perang Dunia I banget. Toh kan aku bilang “terinspirasi”, bukan benerannya. 😛

Tapi meriam itu… abad 18-19 banget. Mungkin campur macem-macem elemen jaman old?

Sayangnya aku tetap nggak dapat komen tak sedikit mengenai musik, sebab BGMnya nggak nonjok-nonjok amat serta tetap nggak ada opening serta ending theme-nya. Sadis lah ditinggalin 1 episode tanpa soundtrack pembuka serta penutup sekaligus… (;__;)

https://828bet.net/ BERKATA : “INI WAIFU GUE WOY!” “BUKAN! INI WAIFU GUEEE!”

—————

8.5/10 untuk episode 1 Violet Evergarden sebab… I love it. Premisnya solid serta sanggup membikin aku menunggu apa aja yang bakal ditemui karakter mutlak ke depannya, elemen-elemennya terbukti “gue banget”, visualnya amat sangat niat, serta… hey, Violet is gorgeous! :3

Violet Evergarden tayang setiap Kamis pukul 00:00 JST di channel Tokyo MX serta 1 hari seusainya di Netflix. Persetan dengan fansub, yang penting tontonlah dalam resolusi 1080p untuk kenikmatan maksimum!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *