Misteri Gunung Salak

gunung salak

Dikutip https://betwin188.website/

Di suatu waktu saya pernah asyik terhanyut dalam obrolan singkat di salah satu terminal bersama salah seorang pendaki. Kurang lebih begini percakapannya:

“Mau naik ke mana bang?” Tanya seorang pendaki.

“Mau ke salak bang!” Jawab saya singkat.

“Salak bang? serius?” Tanyanya keheranan.

“Iya, salak. Ada yang salah?” Jawab saya sekenanya.

“Ya enggak sih. Cuma kan banyak yang bilang angker, trus hutannya banyak pacetnya, treknya juga rapat banyak percabangan, apa gak masalah bang?” Tanya dia.

“Saya kira, penilaian kamu terlalu berlebihan bang tentang gunung salak. Semua gunung, meski memiliki tingkat kesulitan dan jenis hutan yang berbeda, saya rasa punya kekhasanya sendiri. Jika mas masih berfikiran seperti itu, apa sebenarnya essensi kita mendaki gunung?” Balas saya.

Dia diam cukup lama sambil berfikir, lalu kembali saya berbicara,

“Begini Bang, bukan saya merasa sok atau gimana ya. Tapi, menurut saya, jika kita melihat suatu tempat dari sudut rasional, kita memiliki skill dan pengetahuan tentang mountaineering, saya kira hal tersebut takkan mengganggu. Tanpa mengesampingkan masalah adat istiadat setempat yang juga perlu kita hormati, masalah mistis, angker dan sejeninisnya, kita perlu menyikapinya dengan bijak bang!” Jawab saya secara tegas.

“Iya mas, saya mengerti. Oh iya, kenalkan mas. Nama saya Agus!” Ucapnya sambil menjulurkan tangan.

“Saya Cecep. Senang berkenalan dengan anda!”

Pandangan sebelah mata terhadap gunung salak saya akui masih banyak terjadi di beberapa teman kita sesama pendaki. Ada yang beranggapan bahwa kemistikannya dilatarbelakangi oleh banyaknya kecelakan-kecelakaan pesawat yang memakan korban meninggal. Beberapa lagi ada yang beranggapan bahwa gunung salak adalah pusat dari sisa kerajaan ghaib peninggalan pajajaran.

Sah-sah saja jika banyak yang beranggapan seperti itu. Namun saja, hal-hal tersebut malah dibumbui dengan cerita-cerita mistis yang dilebih-lebihkan sehingga ada kesan lebay dan terlalu melihat sesuatu secara ghaib. Padahal, tanpa diketahui banyak orang, Gunung Salak merupakan salah satu gunung yang memiliki hutan hujan tropis yang sangat rapat. di dalam rimbun hutannya kita seolah merasa tenang, nyaman dan kerasan berlama-lama di dalamnya.

Gunung Salak merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Memiliki luas area sekitar 1.133,57 km². Berada di tiga kabupaten yaitu, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Lebak. Untuk pendakian, Puncak Salak merupakan tujuan para pendaki. Ada Puncak Salak 1 dengan ketinggian 2.211 meter di atas permukaan laut (mdpl) serta Puncak 2 yang memiliki ketinggian 2.180 Meter di atas permukaan laut. Kedua puncak tersebut yang lebih populer dibandingan dengan beberapa puncak lain yang juga terdapat di kawasan TNGHS.

Jalur pendakian di kawasan TNGHS yang secara resmi dikelola oleh balai terdapat dua jalur yaitu, jalur pendakian via Javana Spa (Cidahu, Sukabumi) serta jalur pendakian Pasir Reungit (Gunung Bunder, Bogor). Meski yang dikelola hanya dua secara resmi, namun sebenarnya jalur pendakian menuju Puncak Salak 1 dan 2 ada banyak.

Jalur Pendakian Gunung Salak via Desa Girijaya ; Sebuah Perjalanan Spiritual.

Desa Girijaya merupakan desa terakhir sebelum pendakian menuju Puncak Salak 1 dari sisi selatan. Desa Girijaya ini merupakan sebuah desa kecil di dalam kawasan yang berbatasan langsung dengan area Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Di kawasan yang berbatasan dengan taman nasional tersebut terdapat tempat keramat Pasarean Eyang Santri.  Eyang santri merupakan salah satu tokohbyang berperan dalam penyebaran agama islam pada masanya. Pada malam-malam tertentu terutama 1 Hijriyah (suroan) banyak beberapa peziarah yang datang ke makam keramat ini. Mereka bahkan datang dati luar jawa barat hanya untuk bertawasul di makam tersebut.

Jalur pendakian Girijaya dapat ditempuh melalui rute bus dari Jakarta jurusan ke Sukabumi. Setalah tiba di pasar Cicurug kita dapat melanjutkan dengan menyewa mobil angkutan umum maupun dengan jasa ojek. Jarak tempuh dari pasar Cicurug menuju Desa Girijaya memakan waktu sekitar 1 jam dengan medan jalan yang hampur 50% rusak parah.

Jalur Girijaya memang bukan merupakan jalur resmi yang direkomendasikan oleh taman nasional. Jalur ini sebenarnya merupakan rintisan jalur yang dibuka oleh para peziarah yang akan melakukan ziarah di dalam kawasan taman nasional.

Di awal trek pendakian jalur girijaya, kita akan disuguhi oleh deretan pohon kayu manis yang tingginya cukup membuat trek pendakian terhalang dari sinar matahari langsung. Trek ini berlangsung selama kurang lebih setengah jam sampai pos pondok gusti.

Di pos Pondok Gusti terdapat mata air yang bisa kita pergunakan untuk keperluan pendakian. Pos Pondok Gusti itu sendiri merupakan sebuah bangunan yang memiliki dua ruang yang salah satu ruangannya bisa dijadikan untuk bermalam. Ruangan lainnya biasa dipergunakan untuk kegiatan ritual para peziarah untuk shalat dan semacamnya. Sebaiknya, kita membawa peesedian air dari Pondok Gusti untuk mengantisipasi jika di pos selanjutnya, Fly Camp tidak terdapat air.

Setelah pos Pondok Gusti, trek didominasi oleh semak-semak serta perdu. Jalur pendakian sudah mulai menanjak. Trek yang kita lewati sangat rapat  serta terdapat banyak percabangan jalur warga untuk mencari kayu bakar sehingga disarankan untuk membawa orang yang sudah pernah atau sering melewati jalur ini.

Pos selanjutnya ialah fly campFly camp merupakan area dataran dengan luas sekitar kurang lebih 30 m. Di bagian atas terdapat patilasan (makam) keramat di dalam bangunan seperti rumah. Di bagian tengah terdapat mushala yang bisa digunakan para pendaki maupun peziarah untuk shalat dan tawasul. Di bagian paling bawah terdapat saung yang memiliki dua ruang seperti kamar dan satu ruang di tengahnya. ketiga ruangan ini bisa dipergunakan para pendaki maupun para peziarah untuk istirahat maupun bermalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *